Wafat Yesus

Image

dikutip dari: “Dukacita Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus”

oleh Beata Anna Katharina Emmerick (1774-1824)

 

Yesus nyaris tak sadarkan diri..

Lidah-Nya kering kerontang, dan Ia berkata, “Aku haus!”

Para murid yang berdiri sekeliling Salib memandang kepada-Nya dengan tatapan duka mendalam. Lagi Yesus berkata, “Tak dapatkah engkau memberi-Ku sedikit air?” Dengan perkataan-Nya ini Ia membuat mereka mengerti bahwa tak seorang pun yang akan mencegah mereka melakukannya sepanjang masa kegelapan. Yohanes diliputi rasa sesal dan menjawab: “Tak terpikirkan oleh kami untuk melakukannya, ya Tuhan.”

Yesus mengucapkan beberapa patah kata lagi, yang artinya adalah: “Sahabat-sahabat-Ku dan teman-teman-Ku juga telah melupakan Aku, mereka tidak memberi-Ku minum, dengan demikian genaplah apa yang tertulis mengenai Aku.” Rasa diabaikan ini sangat menyedihkan hati Yesus.

Para murid lalu menyerahkan sejumlah uang kepada para prajurit agar mengijinkan mereka memberi Yesus sedikit minum. Para prajurit menolak, tetapi mereka mencelupkan bunga karang ke dalam anggur asam dan empedu, dan hendak memberikannya kepada Yesus, ketika kepala pasukan, Abenadar, yang hatinya tergerak oleh belas kasihan, mengambil bunga karang dari tangan para prajurit, memeras empedunya, menuangkan anggur asam segar ke dalam bunga karang, memasangkannya pada sebatang buluh, menempatkan buluh di ujung sebilah tombak, dan menyerahkannya kepada Yesus agar Ia minum.

Aku mendengar Tuhan kita mengatakan beberapa hal lain, tetapi yang aku ingat hanyalah perkataan ini: “Apabila suara-Ku tak lagi terdengar, maka mulut orang-orang mati akan terbuka.”

Sebagian dari mereka yang hadir berteriak, “Ia menghujat lagi!”

Tetapi Abenadar menyuruh mereka diam.

 

Akhirnya, saat Tuhan kita tiba;
pergulatan maut-Nya dimulai; keringat dingin mengaliri sekujur tubuh-Nya.
Yohanes berdiri di kaki Salib; ia menyeka kaki Yesus dengan kain pundaknya. Magdalena meringkuk di atas tanah dalam dukacita yang begitu hebat di belakang Salib. Santa Perawan berdiri di antara Yesus dan penyamun yang baik, dengan ditopang oleh Salome dan Maria Kleopas;
mata sang Bunda menatap lekat wajah Putranya yang di ambang ajal.
Yesus lalu berkata, “Sudah selesai,” dan mengangkat kepala-Nya, Ia berseru dengan suara nyaring, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan RohKu.” Kata-kata ini, yang Ia ucapkan dengan suara yang jelas dan bergetar, menggema melintasi surga dan bumi; dan sekejap kemudian,
Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan RohNya.
Aku melihat jiwa-Nya dalam rupa sebuah meteor yang cemerlang, menembusi bumi di bawah kaki Salib. Yohanes dan para perempuan kudus jatuh rebah ke atas tanah (= prostratio). Kedua mata Abenadar terus terpaku menatap wajah Tuhan kita yang telah rusak sama sekali. Kepala pasukan ini sepenuhnya dikuasai oleh segala yang telah terjadi. Ketika sesaat sebelum wafat, Tuhan kita memaklumkan kata-kata terakhir-Nya dengan suara nyaring, bumi berguncang dan bukit karang Kalvari terbelah, membentuk suatu jurang yang dalam antara Salib Tuhan kita dengan salib Gesmas. Suara Tuhan – suara yang khidmad dan dahsyat – menggema ke seluruh jagad raya; memecahkan keheningan senyap yang kala itu membungkam alam.
Segalanya telah usai.
Jiwa Tuhan kita telah meninggalkan tubuh-Nya; seruan terakhir-Nya menyesakkan dada dengan kengerian. Bumi yang bergoncang menghaturkan sembah sujud kepada Pencipta-nya; pedang dukacita menembusi hati mereka yang mengasihi-Nya.
Saat ini adalah saat rahmat bagi Abenadar;
kuda tunggangannya gemetar di bawah pelananya; hati Abenadar tersentuh hebat; terkoyak bagaikan bukit karang. Ia melemparkan tombaknya jauh-jauh, menebah dadanya sembari berseru nyaring, “Terpujilah Allah Yang Mahatinggi, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Sungguh, Orang ini adalah Putra Allah!” Kata-katanya ini membuat banyak dari antara para prajurit menjadi percaya; mereka mengikuti jejaknya dan dipertobatkan pula….
 
Ketika Yesus, Tuhan atas hidup dan mati, menyerahkan jiwa-Nya ke dalam tangan BapaNya, dan membiarkan maut menguasai tubuh-Nya, tubuh kudus ini gemetar dan sepenuhnya pucat pasi; luka-luka tak terhitung banyaknya, yang berlumuran darah beku, tampak bagaikan bilur-bilur hitam; pipi-Nya semakin cekung, hidungnya semakin tirus, dan kedua mata-Nya, yang kabur karena darah, tetap setengah terbuka. Ia mengangkat kepala-Nya yang lunglai, yang masih bermahkotakan duri, sekejap saja, lalu menjatuhkannya lagi dalam sengsara yang hebat; sementara bibir-Nya yang kering dan pecah-pecah, hanya sebagian terkatup, memperlihatkan lidahnya yang bengkak dan berdarah.
Pada saat ajal, kedua tangan-Nya yang diregangkan paksa dengan paku-paku, terbuka dan kembali ke ukurannya yang normal, begitu pula lengan-lengan-Nya; tubuh-Nya menjadi kaku, berat beban tubuh-Nya sekarang bertumpu pada kaki, lutut-Nya tertekuk, dan kaki-Nya sedikit terpelintir ke satu sisi.
 
Sungguh malang, adakah kata-kata yang mampu mengungkapkan dukacita dahsyat Santa Perawan?
Kedua matanya terkatup rapat, bayangan maut meliputi wajahnya; ia tak mampu berdiri, melainkan roboh ke atas tanah, tetapi segera tubuhnya dibangkitkan dan ditopang oleh Yohanes, Magdalena dan yang lainnya.
Sekali lagi ia melayangkan pandangannya kepada Putranya terkasih – Putra yang dikandungnya dari Roh Kudus, daging dari dagingnya, tulang dari tulangnya, hati dari hatinya – tergantung di atas kayu salib di antara kedua penyamun; tersalib, hina, dijatuhi hukuman mati oleh mereka yang hendak diselamatkan-Nya dengan kedatangan-Nya ke dunia.
Saat ini, amat tepatlah dikatakan bahwa Santa Perawan adalah “ratu para martir”.
 
Matahari masih tampak redup dan berselimut kabut; sepanjang masa gempa bumi, udara pengap dan panas, tetapi kini berangsur-angsur segar dan bersih kembali.

 
Kira-kira pukul tiga sore ketika Yesus wafat.
Kaum Farisi pada mulanya amat cemas dengan adanya gempa; tetapi setelah goncangan pertama berakhir, mereka segera pulih dan mulai melemparkan batu-batu ke dalam jurang, berusaha mengukur kedalaman jurang menggunakan tali. Namun demikian, ketika mendapati bahwa mereka tak dapat mencapai dasarnya, mereka mulai tercenung, menyimak dengan seksama keluh-kesah para peniten yang meratap dan menebah dada mereka, lalu meninggalkan Kalvari. Banyak di antara mereka yang hadir di sana sungguh dipertobatkan, sebagian besar kembali ke Yerusalem diliputi ketakutan. Para prajurit Romawi disiagakan di pintu-pintu gerbang dan di bagian-bagian utama kota guna mencegah kemungkinan terjadinya huru-hara. Cassius tinggal di Kalvari bersama sekitar limapuluh prajurit.
Para sahabat Yesus berdiri sekeliling Salib, memandangi Tuhan kita dan meratap-tangis; banyak di antara para perempuan kudus yang telah pulang ke rumah mereka, semuanya diam membisu diliputi duka..
 
sumber : “The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich” diterjemahkan oleh YESAYA : http://www.indocell.net/yesaya

Bestselling Author Shares 3 Tips for Building Your Blog Audience

Bestselling Author Shares 3 Tips for Building Your Blog Audience.

A Nice share for every newbie blogger like me^^

Mencintai..harus bagaimana?

Image

 

Terinspirasi dari status Facebook seorang teman,

dia menulis di wall-nya seperti ini :

“Yang Mencintai… akan ditinggalkan…..
Yang Menyayangi…… akan dikhianati….”
Benar r Salah…..???”

 

Membuat saya berpikir,

mengapa ada begitu banyak orang yang mencintai dengan tulus namun kemudian dikecewakan, dikhianati, atau bahkan ditinggalkan. Bukankah dicintai itu adalah keinginan dan harapan semua orang? Siapa sih di dunia ini yang tak ingin dicintai?

Hingga saya kemudian memberi comment seperti ini :

Kalau saat ini anda mencintai dan ditinggalkan, menyayangi dan dikhianati, bukan menjadi alasan untuk tidak lagi mencintai dan menyayangi lagi,bukan?

Mungkin refleksikan terlebih dahulu, apakah cara kita mencintai dapat membuat orang tsb merasa dicintai?

Tidak selalu kata ‘i love u’ dapat membuat orang merasa dicintai, atau tidak selalu pemberian materi membuat orang merasa dicintai.

Mencintai bukan perkara ‘aku mencinta’ saja. Mencintai adalah perkara ‘aku mau kau merasakan cinta yg kumiliki untukmu’.

Jadi, kenali dulu orang yg kita cintai, dengan cara apakah dia dapat merasa dicintai, dikasihi. Sebab pada dasarnya kita semua membutuhkan cinta dari org lain,betul?”

 

Hal ini membuat saya ingat sebuah artikel indah yang ditulis oleh seorang marriage counselor yang berpengalaman lebih dari 30 tahun menangani berbagai macam pasangan. Ia menyebutkan bahwa ada begitu banyak pasangan suami-istri yang bertahun-tahun bergumul dengan perasaan ‘tidak dicintai’ atau ‘kurang dicintai’ oleh pasangannya. Mungkin ini pula yang seringkali terjadi dalam hubungan yang kita bangun..

Sudahkah kita memiliki sikap yang tepat, yang membuat orang yang kita cintai sungguh merasakan bahwa kita mencintainya?

Ataukah kita terlalu egois, dan tidak peduli dengan hatinya yang rindu akan bahasa cinta yang tepat dengan hatinya?

Berikut 5 Language of Love dalam terjemahan bebas ala saya^^

1. Perkataan yang Menguatkan

    Perbuatan ternyata tidak selalu dapat berbicara lebih dari sebuah perkataan. Bila ini adalah bahasa cinta anda, pujian yang tiba-tiba diberikan oleh pasangan anda, bisa begitu berati dan menyentuh hati anda. Mendengarnya mengatakan ‘I Love You’ bisa membuat anda terbang..namun begitu juga sebaliknya, sebuah penghinaan atau kata-kata yang merendahkan, akan sangat mudah menghancurkan hati anda dan tidak akan mudah hilang dari ingatan anda.

2. Waktu-waktu yang Berkualitas

Bagi anda yang memiliki bahasa cinta yang satu ini, tak ada ungkapan cinta yang lebih baik daripada sebuah perhatian yang penuh, tak terbagi, antara anda dan pasangan. Ada bagi anda, ini adalah hal yang terpenting darinya yang anda inginkan – dengan TV yang mati, Blackberry dalam Silent Mode, iPad dan kawan-kawannya beristirahat sejenak di ruang kerja 🙂 – Kehadirannya adalah sesuatu yang amat berarti dan membuat anda benar-benar merasa spesial dan dicintai. Gangguan-gangguan (Seperti telepon dari kantor, BBM, dll), kencan yang ditunda, atau dia yang terlihat tidak mendengarkan ketika anda berbicara, adalah hal yang sangat menyakitkan bagi anda.

3. Hadiah

Jangan salah mengartikan bahasa cinta yang satu ini sebagai bentuk materialisme..Penerima hadiah menikmati cinta, pemikiran penuh, dan usaha di balik hadiah tersebut. Jika ini adalah bahasa cinta anda, hadiah atau ekspresi yang tepat membuat anda merasa anda dimengerti, anda diperhatikan, dan anda dihargai, lebih daripada pengorbanan apapun yang pasangan anda lakukan demi memberi hadiah tersebut bagi anda. Lupa akan hari ulang tahun anda, hari anniversary, atau hadiah yang anda rasa asal-asalan bisa menjadi bencana bagi hubungan anda.

4. Pelayanan

Membersihkan rumah, bisakah hal itu menjadi ekspresi cinta? Tentu bisa :).

Apapun yang dilakukan oleh pasangan anda yang dapat meringankan beban dan tanggung jawab anda, bisa menjadi ungkapan cinta yang amat lantang. Bahasa yang paling anda suka darinya adalah ‘Sini aku bantu..’ atau ‘Biar aku yang melakukannya..’. Sebaliknya, kemalasan, komitmen yang dilanggar, atau justru melakukan hal-hal yang makin merepotkan anda, membuat anda merasa bahwa dia tidak menghiraukan perasaan anda.

5. Sentuhan Fisik

Hmm..bahasa yang satu ini tidak selalu berarti berakhir di ranjang ya..

Bila ini adalah bahasa cinta anda yang utama, pelukan, tepukan di bahu anda, bergandengan tangan, sentuhan yang lembut di tangan, lengan, atau wajah anda – dapat menyampaikan pesan akan perhatian, cinta, semangat, dan perhatian bagi anda. Kehadiran yang nyata lewat bahasa fisik sangatlah berarti bagi anda. Dan sebaliknya, diabaikan atau bahkan disakiti secara fisik, dapat membuat anda merasa sangat terluka.

 

Nah, sekarang anda sudah tahu bahasa cinta anda? Pertanyaan saya kemudian, tahukah anda apa bahasa cinta yang diharapkan oleh pasangan anda?

Penasaran?

Ajak pasangan anda berdiskusi tentang hal ini, dengan suasana yang nyaman dan santai.. Ijinkan dia membicarakan bahasa cinta yang dia sukai, dan sampaikan bahasa cinta anda. Cari titik temu dari keduanya.

Bila bahasa cinta anda berdua begitu berbeda, ini adalah kesempatan yang sangat baik bagi pertumbuhan hubungan anda. Bagaimana anda berdua berusaha agar anda maupun dia, sama-sama merasa saling mencintai dan dicintai.

Selamat Mencoba ^^

 

**Artikel asli dapat dibaca di The 5 Love Languages, Dr. Gary Chapman’s New York Times bestseller! (http://www.5lovelanguages.com/learn-the-languages/the-five-love-languages/)

Pelukan

Hal terindah dari sebuah pelukan adalah,

Ketika aku dapat mendengar detak jantungku berlari mengejar detakmu,
Dan kemudian kita melebur dalam satu irama..

Cinta Dalam Doa

Mengapa aku selalu menangis saat aku merindukanmu?

Aku bertanya. Bertanya. Dan bertanya.

 

Hingga pagi ini aku mecoba mengambil waktu untuk diam dihadapan Tuhan,

aku bertanya.

Dalam diam.

 

Dia pun menjawabku lembut, dalam keheningan.

Cintailah dia lewat doamu.

Yang terpenting bukanlah jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalamu.

Namun, maukah kau sedikit bersabar, duduk tenang, dan membawa dia dalam doamu?

 

Maka aku pun berdoa,

Bagi dia yang kucinta, kurindu dan kunantikan. Semoga Allah memberimu kekuatan, keteguhan, semangat, kesehatan dan kebahagiaan dalam setiap tugas yang kau lakukan untukNya. Dan Tuhan, jagalah dia untukku. Dalam segala ketidakpastian, teguhkanlah selalu hatinya akan Engkau. Aku mau belajar mencintainya, lewat doaku.

 

Semarang, 4 Maret 2012

Next Newer Entries

%d bloggers like this: